REDAKSI – Memasuki bulan suci Ramadhan 2026, tantangan fisik bagi ibu menyusui menjadi perhatian serius di tengah masyarakat. Menjalankan ibadah puasa sembari tetap memenuhi kebutuhan nutrisi bayi melalui Air Susu Ibu (ASI) memerlukan strategi khusus agar kesehatan ibu tetap terjaga dan produksi ASI tidak terganggu. Pakar kesehatan menekankan bahwa kunci utama keberhasilan puasa bagi ibu menyusui terletak pada manajemen hidrasi dan pemilihan nutrisi yang tepat saat sahur maupun berbuka.
Strategi Nutrisi: Karbohidrat Kompleks adalah Kunci
Berdasarkan tinjauan medis terkini, sahur bukan sekadar aktivitas makan dini hari, melainkan fondasi energi untuk belasan jam ke depan. Para ahli gizi menyarankan ibu menyusui untuk memprioritaskan karbohidrat kompleks. Pilihan seperti nasi merah, gandum utuh, atau oatmeal sangat direkomendasikan karena jenis pangan ini dicerna lebih lambat oleh tubuh, sehingga memberikan rasa kenyang yang lebih lama dan menjaga stabilitas gula darah.
Tidak hanya karbohidrat, asupan protein tinggi seperti telur, daging tanpa lemak, dan ikan harus menjadi pendamping setia. Protein berperan vital dalam menjaga kualitas ASI agar tetap kaya nutrisi bagi pertumbuhan bayi. Sebaliknya, saat waktu berbuka tiba, transisi makanan harus dilakukan secara bertahap. Mengawali buka puasa dengan air putih hangat dan kurma adalah langkah cerdas untuk memulihkan kadar glukosa secara alami sebelum masuk ke hidangan utama.
Manajemen Hidrasi dan Pola Makan “3 Tahap”
Masalah utama yang sering menghantui ibu menyusui saat berpuasa adalah risiko dehidrasi. Untuk menyiasatinya, pola minum 8 gelas sehari harus diterapkan dengan disiplin melalui pembagian waktu yang strategis:
- 2 Gelas saat sahur.
- 2 Gelas saat berbuka puasa.
- 4 Gelas pada malam hari (setelah tarawih hingga menjelang tidur).
Selain itu, sangat disarankan untuk mengurangi konsumsi minuman berkafein seperti kopi dan teh kental. Kafein bersifat diuretik, yang memicu tubuh lebih sering membuang air kecil sehingga mempercepat risiko dehidrasi di siang hari. Pola makan juga sebaiknya dibagi dalam tiga tahap: sahur, saat berbuka, dan makan malam setelah salat Tarawih untuk memastikan pemenuhan kalori harian tercapai.
Aktivitas Fisik dan Sinyal Bahaya yang Harus Diwaspadai
Bagi ibu yang aktif bekerja atau mengurus rumah tangga di wilayah Maluku yang cenderung tropis, pembatasan aktivitas fisik berat sangat krusial. Hindari terpapar sinar matahari langsung dalam waktu lama dan manfaatkan waktu tidur siang untuk menjaga stamina. Dari sisi manajemen ASI, teknik memerah ASI (pumping) di malam hari bisa menjadi solusi cadangan jika produksi ASI terasa sedikit menurun di siang hari.
Namun, keselamatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas tertinggi dalam hukum Islam maupun medis. Ibu menyusui sangat disarankan untuk segera membatalkan puasa jika merasakan tanda-tanda berikut:
- Pusing hebat atau pandangan berkunang-kunang.
- Lemas yang tidak tertahankan.
- Urine berwarna sangat gelap (tanda dehidrasi berat).
Kondisi bayi juga harus dipantau secara ketat. Jika frekuensi buang air kecil bayi berkurang drastis (popok tetap kering), bayi tampak sangat rewel, atau berat badannya menunjukkan tren menurun, maka ibu dianjurkan untuk tidak memaksakan berpuasa. Dalam perspektif agama, ibu menyusui diberikan keringanan untuk mengganti puasa di hari lain (qadha) atau membayar fidyah jika kondisi memang tidak memungkinkan.
Dengan perencanaan yang matang, berkonsultasi dengan dokter, serta mendengarkan sinyal tubuh sendiri, ibu menyusui di Maluku dan seluruh Indonesia diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa mengesampingkan kewajiban memberikan nutrisi terbaik bagi buah hati.
